Bagaimana? Iya, Bagaimana?
Akhir-akhir ini sering kepikiran tentang banyak hal, tapi yang paling ngebredeli hati adalah terutama perihal bagaimana esok kalau aku sudah pergi meninggalkan Kediri untuk balik kandang ke kampung halaman.
Bagaimana? Iya, bagaimana?
Bagaimana aku bisa meninggalkan kota ini dengan begitu saja? Bagaimana?
Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan kota ini tanpa tetesan air mata? Bagaimana?
Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan kota ini dengan tenang? Bagaimana?
Bagaimana? Iya, bagaimana?
Lantas apa yang harus aku lakukan?
Rasanya berat sekali ketika harus berpamitan dengan semua orang yang ku kenal di kota ini. Berat, berat sekali. Bajingan.
Tidak, tidak bisa segampang itu. Banyak hal yang tak pernah aku temui sebelumnya di kota ini. Banyak, dan bahkan buanyak sekali.
Sialnya, hingga tulisan ini aku tulis, aku tak bisa untuk meninggalkan kota ini.
Bukan, bukan perkara cinta dan asmara yang menahanku. Tapi semua hal yang pernah kulalui dan lewati di kota ini.
Benci, benci sekali dengan kata pamit.
Benci, benci sekali dengan kata pisah.
Benci, benci sekali.
Bagaimana? Iya, bagaimana?
Comments
Post a Comment