Merawat Ingat: 3 Tahun Tragedi Kanjuruhan

Gambar diambil dari akun JSKK (Jaringan Solidaritas Korban Kanjuruhan)


Pada 3 tahun yang lalu, tepatnya 1 Oktober 2022, sebuah pertandingan sepak bola yang sangat amat bergengsi, juga dilabeli dengan "Derby Jatim"—mempertemukan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. 

Kita semuanya tahu, bahwa pertandingan tersebut adalah pertandingan akbar; sengit, penuh gairah, adu gengsi, super panas. Pun rivalitas antar kedua suporter pun tak luput dari sorotan ketika Derby Jatim itu terselenggara. Panpel yang mencetak ribuan tiket pun ludes, tribun penuh sesak, nyanyian-nyanyian bergemuruh.

Sepak bola yang harusnya menjadi sebuah alat untuk mempersatukan masyarakat sipil dari kalangan apapun itu—juga menjadi sebuah hiburan akhir pekan untuk melepas segala rasa sumpek dan penat malah menjadi sebuah pertunjukan yang menakutkan. Pada hari itu, Stadion Kanjuruhan menjadi sebuah tempat yang mengerikan bagi orang-orang yang ada di sana, pun juga semua orang yang melihatnya lewat media sosial.

Keadaan mengerikan itu pecah ketika tim tuan rumah tertinggal 1 angka dari tim tamu. Pitch Invasion menjadi sebuah aksi yang digerakkan oleh suporter tim tuan rumah. Entah, mereka mencoba menyuarakan kekecewaan kepada manajemen atau yang paling seram, ada niatan untuk menyerang para pemain juga official tim tamu. Mengingat, pertandingan saat itu sudah dibumbui dengan Derby. Entahlah.

Panpel juga aparat keamanan yang seakan acuh dan tidak mau belajar dari kejadian-kejadian yang sebelum-sebelumnya malah mengambil langkah yang sangat amat berbahaya. Salah satunya adalah gas air mata. Selongsong demi selongsong gas air mata ditembakkan secara ngawur; di lapangan, di tribun, dan dimana-mana. Tribun yang awalnya penuh sesak dengan suporter dan penonton, menjadi lebih sesak—terlebih sesak di mata dan di dada. Sebab semuanya telah berhamburan untuk menyelamatkan diri sendiri, juga sanak saudara, teman, orang tua, dan anak.

Membayangkannya saja sudah tidak kuat bagaimana mengerikannya keadaan waktu itu. Gila. Sakit. Tragis.

Tuhan...

Banyak orang tak sadarkan diri, tergeletak, tak berdaya, hingga hilangnya nyawa. Dari mulai balita, anak-anak, remaja, hingga orang-orang tua tak luput menjadi korban keganasan gas air mata itu. Tak bisa membayangkan bagaimana dan sesakit apa. Tuhan...

135 nyawa hilang, 135 nama pergi selama-lamanya meninggalkan orang-orang terkasihnya, 135 orang yang hanya dianggap sebagai angka dan semakin kesini semakin tenggelam arah kelanjutannya.

Negara, Federasi, Polri yang harusnya bertanggung jawab atas tragedi mengerikan itu, malah abai dan memilih untuk diam. Seperti sengaja kasus ini dibuat untuk hilang dan tenggelam. Bahkan, seorang Pemimpin Negara ketika ditanya bagaimana tentang tragedi itu malah menjawab dengan cengengesan. Bajingan! Bajingan! Negara kontol.

Ada yang lebih bajingan, tim Arema FC (baca: nir empati) hingga sekarang masih dengan santainya bermain di kompetisi Liga tertinggi di Negeri ini. Tuhan...

Bahkan, pendukung-pendukungnya pun hingga sekarang masih jingkrak-jingkrak, merayakan hari pertandingan, menemani tim brengsek itu kesana-kemari. Mereka merayakan sepak bola di atas tanah yang berlumuran darah, di atas tanah dimana saudara-saudaranya telah dibunuh. Tuhan...

Mungkin, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah tetap menyuarakan, membicarakan, merawat ingatan tentang Kanjuruhan. Bahwa 135 nyawa yang telah hilang masih belum mendapatkan keadilan seadil-adilnya, bahwa 135 nyawa yang telah hilang itu akan selalu abadi di hati kita semua. Selamanya.

Untuk doa-doa baik yang telah mengudara, untuk setiap hati orang-orang yang ditinggalkan, untuk setiap amarah yang selalu dipendam, untuk setiap nama yang akan selalu membekas di ingatan, untuk setiap cinta kasih yang akan terhubung selamanya, untuk solidaritas yang telah kita kokang bersama-sama, untuk 135 nyawa yang telah pergi ke pelukanNya.

Hidup korban! Jangan diam! Lawan!

Al-fatihah.


Comments

Popular posts from this blog

Merawat Ingat: 19 Tahun Tragedi Lumpur Panas PT. Lapindo Brantas

Bagaimana? Iya, Bagaimana?