Merawat Ingat: 19 Tahun Tragedi Lumpur Panas PT. Lapindo Brantas
Tepat hari ini, 19 tahun yang lalu sebuah bencana besar yang diakibatkan karena keserakahan sebuah korporasi dan penguasa karna memaksa mengambil alih tanah masyarakat di sebuah wilayah di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya Kecamatan Porong, untuk dijadikan sebuah proyek percobaan yang dipercaya akan menghasilkan sebuah sumber daya alam yang besar. Alih-alih berhasil, yang ada malah menimbulkan sebuah tangisan dan kegagalan. Bencana itu dinamakan semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas.
Bencana tersebut mengakibatkan tenggelamnya 16 desa di tiga kecamatan di Sidoarjo. Ratusan ribu warga setempat terkena imbas dari keserahakan itu. Banyak sekali kerugian yang didapat akibat bencana itu. Mulai dari kehilangan tempat untuk berteduh bersama keluarga tercinta, tempat untuk memulai sebuah mimpi yang kini mimpi tersebut harus tenggelam dalam lautan lumpur yang dipenuhi oleh tangis duka cita.
Ya Tuhan, mengapa? Mengapa Engkau ciptakan sebuah sifat serakah jikalau sifat tersebut nantinya akan berimbas sakit, tangis dan duka untuk orang-orang yang tidak bersalah?
Ancaman demi ancaman selalu datang seperti hingga hari ini, lumpur panas tersebut masih keluar dari dalam sumur pengeboran, asap putih tebal tertiup angin kesana-kemari, bau tidak sedap yang menyerupai gas itu tetap menempel pada hidung setiap masyarakat sekitar, kesulitan air bersih hingga pencemaran lingkungan yang merusak ekosistem dan lahan.
Tragedi tersebut hingga sekarang masih abu-abu tentang bagaimana penanganan dan solusinya, bahkan sengaja untuk dilupakan. Negara yang abai akan bencana tersebut semakin membuat pelaku-pelaku yang menyebabkan hilangnya banyak penghidupan masyarakat sekitar Porong menjadi lebih bebas, tak peduli dan seakan tidak mau tahu menahu.
Tragedi lumpur panas tersebut akan selalu membekas di dalam hati ribuan masyarakat Sidoarjo dan lebih khusus masyarakat Porong. Tak bisa ditutup, dan akan selalu selamanya kami akan mengingat bencana besar yang disebabkan oleh keserakahan-keserahakan para bajingan itu.
Porong, the place where our dreams were buried in mud filled with tears. Forever will never forget, forever will never forgive.

Comments
Post a Comment