Jejak Seratus Hari Sekian Masa Pemerintahan
Sudah seratus hari sekian, Negara dipimpin oleh orang-orang sakit.
Sudah seratus hari sekian, muncul kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan penguasa dan para elit.
Sudah seratus hari sekian, sudah sangat amat susah mencari lapangan pekerjaan ditambah lebih susah lagi mencari dan berebut gas hingga tewas.
Sudah seratus hari sekian, Negara kian mengobrak-abrik setiap sektor kehidupan lewat efisiensi anggaran untuk program makan gratis yang tak seberapa enak.
Sudah seratus hari sekian, dimana sebuah pagelaran seni lukisan tiba-tiba dibatalkan.
Sudah seratus hari sekian, dimana Negara sangat amat takut dengan tulisan.
Sudah seratus hari sekian, dimana Negara akan melakukan sebuah perjudian atas nama investasi danantara.
Sudah seratus hari sekian, sebuah karya lagu yang mana lirik-lirik di dalamnya adalah sebuah realita bobroknya suatu institusi dilarang beredar, ditarik, dibredel hingga diancam.
Sudah seratus hari sekian, dimana para aparat bersenjata bisa menduduki sebuah jabatan ganda.
Sudah seratus hari sekian, saya rasa bukan hanya hatiku saja yang bergetar ketika melihat segala bentuk ketidakadilan yang muncul dipermukaan.
Sudah seratus hari sekian, gelap gempita datang mengganggu tidur nyenyak kita, menghantui hidup kita.
Sudah seratus hari sekian, lambang garuda berisikan lima sila semakin hilang makna dan magisnya.
Sudah seratus hari sekian, dimana Negara menuju pada era kegelapan yang paling amat gelap.
Sudah seratus hari sekian, mari kita sebar benih-benih solidaritas itu, mari bersama-sama merobohkan tembok-tembok penindasan itu.
Atas nama rakyat yang tertindas, pada seratus hari kesekian dan selamanya, kami bersumpah mati, membusuklah kalian para penguasa di neraka yang paling dalam.
Comments
Post a Comment