Terima Kasih, Ya.
Entah membekas atau tidak bagimu, hidup yang sempat ditemani oleh kamu adalah salah satu bagian yang paling sangat aku syukuri.
Sebuah singgah yang diam-diam mengajarkan aku bahwa kebersamaan tidak selalu menuntut sebuah keabadian, dan pun juga kehilangan tidak selalu berarti sia-sia.
Meskipun pada akhirnya kita hanyalah dua insan yang tetap harus saling mengikhlaskan satu sama lain.
Aku tetap percaya bahwa pertemuan itu bukanlah sebuah kebetulan. Dari begitu banyaknya manusia di dunia ini—semesta pernah memilih kita untuk saling menemukan—walau hanya singkat dan sebentar.
Kita memang tidak berjalan sampai akhir secara berdampingan: aku dengan jalanku, kamu dengan jalanmu.
Di antara jarak itu, pernah ada marah yang sulit diterima, ada maaf yang belum sempat terucap, ada kenyataan yang rasanya terlalu berat sekali untuk disebut sebagai sebuah takdir.
Namun, seperti yang pernah kamu katakan: hidup harus tetap terus berjalan.
Dan kini aku mulai mengerti bahwa terus berjalan bukan berarti melupakan—melainkan belajar bagaimana caranya untuk menerima tanpa harus menghilangkan segala hal yang pernah ada.
Bersama lagi atau tidak, semoga masing-masing dari kita selalu diberi kesempatan untuk menjalani hidup dengan lebih baik dan sebaik-baiknya.
Barangkali suatu hari kita saling mengingat, semoga yang timbul adalah sebuah kesadaran—bahwa kita pernah sama-sama saling menguatkan di waktu-waktu yang pernah kita miliki.
Dan akan selalu ada tempat tentang perihal kamu di hatiku, selalu, abadi, selamanya.
Terima kasih, ya. Sampai jumpa lagi.
Comments
Post a Comment