Posts

Terima Kasih, Ya.

Entah membekas atau tidak bagimu, hidup yang sempat ditemani oleh kamu adalah salah satu bagian yang paling sangat aku syukuri. Sebuah singgah yang diam-diam mengajarkan aku bahwa kebersamaan tidak selalu menuntut sebuah keabadian, dan pun juga kehilangan tidak selalu berarti sia-sia. Meskipun pada akhirnya kita hanyalah dua insan yang tetap harus saling mengikhlaskan satu sama lain.  Aku tetap percaya bahwa pertemuan itu bukanlah sebuah kebetulan. Dari begitu banyaknya manusia di dunia ini—semesta pernah memilih kita untuk saling menemukan—walau hanya singkat dan sebentar. Kita memang tidak berjalan sampai akhir secara berdampingan: aku dengan jalanku, kamu dengan jalanmu. Di antara jarak itu, pernah ada marah yang sulit diterima, ada maaf yang belum sempat terucap, ada kenyataan yang rasanya terlalu berat sekali untuk disebut sebagai sebuah takdir. Namun, seperti yang pernah kamu katakan: hidup harus tetap terus berjalan. Dan kini aku mulai mengerti bahwa terus berjalan bukan ber...

Merawat Ingat: 3 Tahun Tragedi Kanjuruhan

Image
Gambar diambil dari akun JSKK (Jaringan Solidaritas Korban Kanjuruhan) Pada 3 tahun yang lalu, tepatnya 1 Oktober 2022, sebuah pertandingan sepak bola yang sangat amat bergengsi, juga dilabeli dengan "Derby Jatim"—mempertemukan antara Arema FC dengan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.  Kita semuanya tahu, bahwa pertandingan tersebut adalah pertandingan akbar; sengit, penuh gairah, adu gengsi, super panas. Pun rivalitas antar kedua suporter pun tak luput dari sorotan ketika Derby Jatim itu terselenggara. Panpel yang mencetak ribuan tiket pun ludes, tribun penuh sesak, nyanyian-nyanyian bergemuruh. Sepak bola yang harusnya menjadi sebuah alat untuk mempersatukan masyarakat sipil dari kalangan apapun itu—juga menjadi sebuah hiburan akhir pekan untuk melepas segala rasa sumpek dan penat malah menjadi sebuah pertunjukan yang menakutkan. Pada hari itu, Stadion Kanjuruhan menjadi sebuah tempat yang mengerikan bagi orang-orang yang ada di sana, pun juga semua...

Merawat Ingat: 19 Tahun Tragedi Lumpur Panas PT. Lapindo Brantas

Image
Tepat hari ini, 19 tahun yang lalu sebuah bencana besar yang diakibatkan karena keserakahan sebuah korporasi dan penguasa karna memaksa mengambil alih tanah masyarakat di sebuah wilayah di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya Kecamatan Porong, untuk dijadikan sebuah proyek percobaan yang dipercaya akan menghasilkan sebuah sumber daya alam yang besar. Alih-alih berhasil, yang ada malah menimbulkan sebuah tangisan dan kegagalan. Bencana itu dinamakan semburan lumpur panas PT. Lapindo Brantas.  Bencana tersebut mengakibatkan tenggelamnya 16 desa di tiga kecamatan di Sidoarjo. Ratusan ribu warga setempat terkena imbas dari keserahakan itu. Banyak sekali kerugian yang didapat akibat bencana itu. Mulai dari kehilangan tempat untuk berteduh bersama keluarga tercinta, tempat untuk memulai sebuah mimpi yang kini mimpi tersebut harus tenggelam dalam lautan lumpur yang dipenuhi oleh tangis duka cita.  Ya Tuhan, mengapa? Mengapa Engkau ciptakan sebuah sifat serakah jikalau sifat tersebut nantinya...

Bagaimana? Iya, Bagaimana?

Akhir-akhir ini sering kepikiran tentang banyak hal, tapi yang paling ngebredeli hati adalah terutama perihal bagaimana esok kalau aku sudah pergi meninggalkan Kediri untuk balik kandang ke kampung halaman.  Bagaimana? Iya, bagaimana?  Bagaimana aku bisa meninggalkan kota ini dengan begitu saja? Bagaimana?  Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan kota ini tanpa tetesan air mata? Bagaimana?  Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan kota ini dengan tenang? Bagaimana?  Bagaimana? Iya, bagaimana?  Lantas apa yang harus aku lakukan?  Rasanya berat sekali ketika harus berpamitan dengan semua orang yang ku kenal di kota ini. Berat, berat sekali. Bajingan.  Tidak, tidak bisa segampang itu. Banyak hal yang tak pernah aku temui sebelumnya di kota ini. Banyak, dan bahkan buanyak sekali.  Sialnya, hingga tulisan ini aku tulis, aku tak bisa untuk meninggalkan kota ini.  Bukan, bukan perkara cinta dan asmara yang menahanku. Tapi semua hal yang pernah kulal...

Akhirnya, Kembali Mengunjungi Yogyakarta

Akhir bulan April lalu dengan sedikit nekat untuk melepas rasa bosan dan penat akan kegiatan ngehandle warung kopi di Kediri, aku berangkat ke barat, menuju ke sebuah kota yang konon katanya adalah sebuah kota pelajar. Yogyakarta, membaca namanya saja terlihat istimewah bukan?  Bukan kali pertama aku mengunjungi kota tersebut. Ketika masih di bangku sekolah, study tour ke Jogja adalah sebuah hal yang wajib. Juga 2 tahun yang lalu, ketika Jogja menjadi tempat transit bersama kawan-kawanku Sidoarjo sebelum hijrah ke Cilacap untuk melaksanakan ibadah "Awaydays". Pada awal tahun ini, direstui kembali oleh semesta untuk berkunjung ke Jogja. Bukan untuk menunaikan ibadah awaydays, bukan. Tapi ikut serta dalam hingar bingar acara perayaan suka cita penantian 18 tahun kawan-kawan Jogja atas promosinya PSIM ke kompetisi tertinggi di Negeri ini.  Acara yang bertajuk "Pride & Glory" tersebut diusung secara kolektif oleh kawan-kawan From Terrace To The Stage dan berkolabora...

Pulangkan Saja Deltras Ke Bali

Jika mendengar tim ini mungkin sebagian besar orang menganggap bahwa tim ini adalah tim ajaib. Mengapa? Siapa yang tidak tau Deltras Sidoarjo? Hal-hal ajaib apa yang tak pernah keluar dari tim tersebut? Hahaha. .  Tim yang berjuluk The Lobster itu mempunyai kandang yang megah sekali, total cakep, ndak main-main, sudah berstandar internasional pula. Apalagi setelah adanya renovasi dari PUPR kemarin, wah malah semakin ndak karu-karuan megahnya. Papan skor yang dulu masih menggunakan blabak, sekarang sudah berganti digital, single seat di seluruh tribun, toilet bersih, aman, dan nyaman. Tetapi, kandang tersebut malah menjadi ancaman tersendiri untuk Deltras, sebab, kenaikan biaya sewa yang super mahal sekali hahaha. Gila, sekelas pertandingan nasional saja untuk 3 jam sewa bisa hampir menyentuh 50 juta. Belum lagi ketika pertandingan internasional, biaya sewanya hingga 40 juta/jam. Wow, fantastis sekali bukan? Kemungkinan besar, Deltras akan "terusir" di rumahnya sendiri. Yap, a...

Jejak Seratus Hari Sekian Masa Pemerintahan

 Sudah seratus hari sekian, Negara dipimpin oleh orang-orang sakit.  Sudah seratus hari sekian, muncul kebijakan-kebijakan yang hanya menguntungkan penguasa dan para elit.  Sudah seratus hari sekian, sudah sangat amat susah mencari lapangan pekerjaan ditambah lebih susah lagi mencari dan berebut gas hingga tewas.  Sudah seratus hari sekian, Negara kian mengobrak-abrik setiap sektor kehidupan lewat efisiensi anggaran untuk program makan gratis yang tak seberapa enak.  Sudah seratus hari sekian, dimana sebuah pagelaran seni lukisan tiba-tiba dibatalkan.  Sudah seratus hari sekian, dimana Negara sangat amat takut dengan tulisan.  Sudah seratus hari sekian, dimana Negara akan melakukan sebuah perjudian atas nama investasi danantara.  Sudah seratus hari sekian, sebuah karya lagu yang mana lirik-lirik di dalamnya adalah sebuah realita bobroknya suatu institusi dilarang beredar, ditarik, dibredel hingga diancam. Sudah seratus hari sekian, dimana para apa...